- Billy Dan Jane
Billy Dan Jane
"Tolonggg!". Aku terjatuh ke tebing yang juram dan sepertinya tak ada
yang mengetahuinya, aku merasa tak ada harapan lagi untuk dapat hidup.
" Siapapun engkau, aku janji akan menjadi saudaramu jikalau kau lelaki
aku pun mau jadi kekasihmu. Tolong aku!". Teriak ku lagi. Gelap mata
ini terpejam, tubuhku sakit dan penuh luka. Aku mencoba membuka kedua
mataku dan terlihat bayangan di depan ku yang tadinya samar2 kini
semakin jelas. Aku terperanjat, aku terkejut akan sosok lelaki di
hadapanku ini. " k k kau si siapa?" dengan terpatah patah aku
memberanikan untuk bertanya." aku seorang pengembara" jawabnya.
" Kaukah yang telah menolong ku? dan siapa nama mu?" tanyaku.
" Iya benar,perkenalkan namaku Billy dan siapa nama mu? mengapa kau
ada di sini ?".
" Aku Jane, tadinya aku sedang liburan di Puncak bersama keluarga dan
tiba-tiba aku berada di tempat ini sendirian dan terpeleset di tebing
saat mencari jalan keluar". Aku menjawab dengan gelisah. " sebaiknya
kau cepat terbangun, sebab di sini banyak binatang buas yang siap
memangsamu" Dia terlihat panik. " terbangun? apa maksud mu, aku tidak
mengerti". " aku mohon bangunlah !". Aku seperti masuk dalam ruang
dimensi, lorong panjang memisahkan aku dengan pengembara itu.
Kringggg kringggg!!. Jam walker ku sangat mengganggu telinga ku.
Dan aku terbangun meski rasa kantuk masih menghantui ku. Aku pun
bergegas dan setelah semuanya rapi, aku turun ke bawah menghampiri
paman & bibi yang telah menunggu ku untuk sarapan bersama.
" paman harap kamu akan betah tinggal di sini, juga senang dengan
sekolah baru mu, Jane" kata paman.
" Tentu paman, kalau begitu Jane pamit dulu ya". Sekarang pukul 07.00
dan aku telah sampai di sekolah baru ku. Berharap nantinya aku senang
di sini. Semoga ayah & ibu akan senang aku telah menuruti
permintaanya yaitu tinggal di Palembang, ya aku rasa di sini lebih
baik ketimbang tinggal di Bogor bersama kedua orang tua tetapi mereka
sibuk akan urusan masing2, waktu luang untuk kumpul bersama anaknya
pun tak ada. Setelah aku memperkenalkan diri, pelajaran pun dimulai. "
Terlambat lagi! kebiasaan sekali kau Billy!".
" Maaf bu, saya..." jawabnya. " Sudahlah! Sana duduk!". Sepertinya
guru fisika ini cukup keras, emmm tapi tak menjadikan masalah bagiku.
Tapi? Oh wait! nama itu... .
" Mimpi, hutan, dan pengembara?... Billy". Kataku dalam hati.
" Ah tidak! hanya nama saja yang sama, dia sangat beda jauh dengan
Billy di mimpi ku. Dia cuma murid cowok yang suka terlambat! " Seakan
aku yakin bahwa Billy dalam mimpi ku ada dalam dunia nyata.
Setelah semua pelajaran selesai dan bel pulang, aku menyempatkan ke
perpus dulu untuk meringkas mapel yang ketinggalan, tentunya aku harus
berprestasi di kelas XI.A1 agar tak memgecewakan orangtua ku di Bogor.
" Hi, Jane". Cowok tinggi dan berkaca mata tebal itu menghampiriku.
" Hi, kamu??". Aku tak mengenalnya. " Aku Greyson, kita kan satu kelas".
" Oh maaf, aku belum terlalu hafal nama2 murid di kelas".
" Tak apa lagi pula kau kan anak baru". Greyson sepertinya teman yang
baik, dia bahkan mau mengajariku materi yang belum terlalu aku kuasai.
Setengah tahun lamanya aku telah mengenyam pendidikan di sekolah ini.
Kebetulan hari ini sedang ada classmeeting. Lapangan basket sangat di
keributin oleh murid, sepertinya ada pertandingan.
" Eh Jane, lo mau kemana? Ngak nonton Billy si kapten basket yang
terkenal dan banyak ditaksir cewek2 sekolah ini?". Aku tak habis pikir
dengan si Claudy yang cerewet di kelas.
" Penting apa? mending ke perpus aja" .
" Blagu lu! Ah bodo amatlah lagipula lo tu ngak pantes ngefans sama
Billy. Sana pergi! ngak penting lu!". Aku tak terlalu memikirkan
omongan Claudy.
Terlihat Greyson yang sedang asik membaca di perpus. Aku coba
menghampirinya dan duduk di sebelahnya. " Sebenarnya Billy itu siapa
si, apa coba yang baik dari sisi dia yang suka telat, ngak ngerjain
tugas ,suka tidur di kelas. Sebel sendiri lama-lama". Tiba-tiba saja
aku ngomel sendiri di samping Grey yang asik baca buku." Loh bukannya
kamu seharusnya menyaksikan dia main basket serta memberi semangat
untuknya seperti kebanyakan murid cewek?".
"Apa! Oh tidak, aku harap tidak seperti mereka!". Tapi Grey malah
tertawa padahal aku tidak sedang melawak.
Aku melihat di sisi kanan Grey ada sketch book, aku rasa itu miliknya
dan aku mencoba meraih dan melihat gambar cewek yang di sketchnya.
"Kok ada tulisan Jane? Kamu menggambar a..ku?".
" Eee iya, itu kamu". Dia terlihat gugup menjawabnya tapi aku senang
dengan sketch yang dia buat.
"Wah keren, boleh ngak aku bawa pulang buat dipajang di kamar boleh ya Grey?".
" Eee tentu". Grey memberinya untuk ku.
Aku berjalan di koridor sambil membawa sketch itu. " Hi, apa kau
suka?". Aku terheran apa benar Billy yang menyebalkan itu bertanya
padaku?. " Ada perlu apa?!".
" Ngak kok, aku duluan ya". Dia langsung berjalan mendahuluiku, Meski
aku terheran padanya. Kini aku sampai di kelas dan mencoba untuk
duduk." Wuih, siapa yang gambar Jane? Keren banget". Tanya Sisil teman
sebangku ku." Greyson".
"Dia kan bukan anak art, setahuku anak art yang paling jago di kelas
ya cuma Billy yang bisa gambar serealist ini". Aku tertawa
mendengarnya dan mengelak bahwa Billy sangat tidak memungkinkan.
Berdiri menunggu paman menjemput ku. Billy menghampiriku, aku merasa
aneh saja dari tadi dia selalu mencoba menyapa ku.
"Hi, Jane. Pulang bareng yuk."Tawarnya.
"Ngak, makasih". Jawabku
" Emm, aku harap kamu mau menyimpan dengan baik sketch buatan ku itu
ya walaupun tidak begitu bagus". Aku terkejut padanya.
" Hah?! Jadi memang benar sketch ini kamu yang buat?". Dia mengangguk
dan tersenyum manis padaku, namun aku membuang sketch itu dan
menginjak-injaknya dengan sepatuku. Entah kenapa, yang jelas aku tak
ingin mempunyai kenangan apapun dengannya. Terlihat wajahnya kecewa
atas tindakanku barusan. Meski begitu dia masih sempat menyapaku lagi
untuk pulang dulu.
Sesampainya di rumah aku merasa kecewa pada Greyson, kenapa dia
membohongiku. Sebenarnya aku juga merasa bersalah pada Billy, aku
harap dia tidak murka. Aku hanya tidak suka akan kebiasaan tingkah
buruknya. Ku bersihkan sketch itu agar terlihat bersih, ya aku
memungutnya lagi setelah aku rasa Billy sudah pergi. Entah sebab apa
aku melakukannya.
Aku telusuri panjang koridor dan menuju kelas, namun langkah ku
terhenti setelah Claudy memanggilku dari belakang. Dia menangis
tersedu-sedu.
" Sekarang kamu puas hah?!". Aku terheran atas ucapannya.
" Sekarang Billy diDO, dan itu pasti karena kamu!". Amarah Claudy
semakin menjadi padaku. Aku masih bingung dan tidak paham.
Aku menuju TKP, ya Billy diDO karena dia membuat grafity dengan huruf
i dan bentuk hati serta aku lihat namaku ada di grafity yang dia buat
pada tembok aula sekolahan, tentunya pak kapsek marah.
Aku tidak mau ambil diam, aku pun menghampiri pak Kapsek dan
menjelaskan bahwa bukan sepenuhnya ini kesalahan Billy. Dengan
pengertiannya Pak Kapsek mau memahami kesalahan Billy, dan bersyukur
sekali hukuman DO kini diganti dengan skors. Setidaknya Billy tidak
dikeluarkan dari sekolahan.
Malam ini Billy menemui ku di rumah. Dia memberi ku seuntai bunga.
"Aku harap kamu mau menerima bunga ini sebagai rasa terima kasih ku".
Dia tersenyum manis. Dia juga menyatakan perasaannya padaku bahwa
sudah lama dia telah menyukaiku, tentu ini sulit untuk ku percaya.
Entah kenapa aku teringat lagi akan mimpi itu, mimpi akan pengembara
yang bernama Billy.
Seakan menjadi nyata dalam hidup ku, aku sedang bersamanya dalam dunia
nyata ini. Dan aku menceritakan mimpi itu padanya, dia tersenyum meski
sesekali menahan tawa dengan tangannya.
Kini aku percaya bahwa setiap mimpi mempunyai makna tersendiri.
15 April 2015 dimana aku serta teman seperjuanganku mendapatkan kabar
menggembirakan, semua SMA 1 lulus 100%. Begitu pun Billy, senyumnya
merekah.
Aku dan Billy ikut serta merayakan kelulusan dengan konvoi.
Coret-coret seragam dengan pilok pun kami lakukan. Rasanya begitu
menyenangkan, pastinya aku akan merindukan teman- teman seperjuangan.
Tragis! Ya kejadian yang tak pernah sedikit pun aku bayangkan terjadi.
Kecelakaan itu merenggut nyawanya. Dia memeluk erat tubuhku berusaha
melindungiku, ya dan pada akhirnya aku terselamatkan dari kecelakaan
maut itu. Aku hanya dapat menangis. Billy telah menolong ku, tapi ini
sangat menyakitkan untuk ku. Pada akhirnya aku kehilangan dia.
Komentar
Posting Komentar